Machiavelli Bolmong : Tipu Muslihat Kemajuan Bolmong

“Realitas tersebut membuktikan bahwa Machiavelli Bolmong tidak pernah terpikir untuk membaca nasihat politik Machiavelli kepada The Prince”

Oleh: Budi Nurhamidin

Terastoday.com- Ketika membaca judul di atas tentunya kita tidak asing dengan nama tokoh tersebut. Ya, Machiavelli merupakan seorang filsuf, penulis dan diplomat Italia pada abad ke-16.

Gagasan beliau dalam diskursus politik yang beliau tulis dalam buku “Il Principle” menyoroti sifat manusia, kekuasaan, dan politik dengan pendekatan realis dan pragmatis, serta menganggap politik sebagai arena kekuasaan yang harus dijalankan dengan kecerdikan dan kelicikan tanpa mempertimbangkan moral publik. Baginya, moral publik merupakan lokus yang berada diluar domain politik.

Sukidi dalam tulisannya “Machiavelli Jawa” menjelaskan bahwa realisme politik tanpa etika dan moral yang dicerminkan oleh Machiavelli dalam kepemimpinannya yang penuh dengan kemunafikan, kebohongan dan kelicikan.

Adapun nasehat politik Mchiavelli dalam The History of Florence and The Prince kepada pangeran : “Menjadi seorang munafik dan pembohong yang hebat. Mencapai hal-ha besar harus belajar menipu. Tidak pernah kekurangan alasan yang sah untuk mengingkari janji-janjinya”.

Nasihat tersebut mendapatkan relevansi politik pada gaya kepemimpinan Machiavelli Bolmong yang menjalankan kepemimpinan melalui politik tipu muslihat.

Politik semacam itu berjalan dengan efektif dalam kekuasaan Bolmong. Dalam drama politik yang dijalankan Machiavelli Bolmong berhasil memanipulasi persepsi publik melalui pertunjukan kepribadian yang hipokrit.

Penyampaian-penyampaian kepada publik tentang kemajuan Bolmong yang dibuktikan dengan lepasnya batas wilayah, pengembalian bayar lebih kepada pemerintah pusat dan ahistoris terhadap sejarah leluhur Mongondow menunjukan sikap paradoks serta merupakan bukti tindakan amoral terhadap publik.

Praktik politik kemunafikan, kebohongan dan tipu muslihat yang dipraktikan oleh Machiavelli Bolmong berpengaruh luas dan hegemonik kerena kemampuan liciknya untuk menggunakan seluruh sumber daya politik, bisnis, dan hukum dengan menghalalkan segala cara untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan oligarkinya.

Realitas tersebut membuktikan bahwa Machiavelli Bolmong tidak pernah terpikir untuk membaca nasihat politik Machiavelli kepada The Prince : “Semua orang tahu betapa terpujinya bagi seorang pengeran untuk menepati janjinya dan hidup dengan integritas moral dibandingkan dengan tipu musihat. Namun pengalaman di zaman ini menunjukan kepada kita bahwa para pangeran yang telah mencapai hal-hal besar adalah mereka yang tidak terlalu peduli untuk menjaga kepercayaan kepada rakyat dan menggunakan kepintaran untuk membingungkan pikiran-pikiran manusia”.

 

Check Also

Terastoday

Kenali Tanda-tanda Psikopat: ini 6 Ciri Umum yang Perlu Diwaspadai

Terastoday.com,RAGAM– Psikopat seringkali memiliki ciri khas tertentu yang dapat membantu kita mengidentifikasi keberadaan mereka di …